Persaingan teknologi kendaraan ramah lingkungan tidak lagi hanya berbicara mengenai mobil listrik berbasis baterai. Hidrogen Hijau Saingi Mobil Listrik mulai menjadi pembahasan karena teknologi fuel cell menawarkan karakter berbeda, terutama waktu pengisian bahan bakar yang singkat dan potensi penggunaan untuk perjalanan jarak jauh. Indonesia sendiri sudah mulai membangun ekosistem hidrogen melalui fasilitas produksi, stasiun pengisian, hingga pengembangan kendaraan prototipe. Kementerian ESDM bahkan menempatkan hidrogen sebagai salah satu bahan bakar masa depan dalam agenda transisi energi Indonesia.
Namun, kemunculan hidrogen bukan berarti mobil listrik baterai akan langsung tergeser. Kedua teknologi mempunyai kelebihan dan tantangan berbeda. Mobil listrik sudah mempunyai ekosistem yang berkembang lebih cepat, sementara hidrogen menawarkan keunggulan untuk kebutuhan tertentu. perbandingan mobil hidrogen dan listrik, masa depan kendaraan hidrogen Indonesia, serta teknologi fuel cell ramah lingkungan menjadi menarik dibahas seiring upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat.
Hidrogen Hijau Mulai Menjadi Alternatif Kendaraan Listrik
Kendaraan hidrogen pada dasarnya juga menggunakan motor listrik. Perbedaannya terletak pada sumber energi. Mobil listrik baterai menyimpan energi di dalam baterai berkapasitas besar, sedangkan kendaraan fuel cell menghasilkan listrik melalui reaksi elektrokimia menggunakan hidrogen.
Jika hidrogen diproduksi menggunakan elektrolisis dengan listrik dari energi terbarukan, bahan bakarnya disebut hidrogen hijau. Pada kendaraan fuel cell, penggunaan hidrogen tersebut tidak menghasilkan emisi karbon dari knalpot dan produk sampingannya berupa air.
Pengisian Hidrogen Hanya Membutuhkan Beberapa Menit
Salah satu keunggulan terbesar kendaraan hidrogen adalah waktu pengisian. Kementerian Pertahanan dalam publikasi mengenai ekosistem hidrogen menyebut pengisian kendaraan hidrogen dapat dilakukan sekitar 3–5 menit, mirip dengan kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.
Keunggulan tersebut membuat perbandingan mobil hidrogen dan listrik semakin menarik. Pengisian baterai EV memang terus semakin cepat, tetapi kendaraan hidrogen menawarkan pengalaman pengisian yang lebih mendekati kendaraan konvensional.
Jarak Tempuh Menjadi Salah Satu Keunggulan
Hidrogen juga menarik untuk kendaraan yang membutuhkan jarak perjalanan panjang. Teknologi ini dinilai potensial untuk kendaraan besar seperti bus, truk, kereta dan kapal karena dapat mengurangi kebutuhan baterai berukuran sangat besar dan berat.
Karakter tersebut membuat Hidrogen Hijau Saingi Mobil Listrik bukan semata soal kendaraan penumpang pribadi. Dalam jangka panjang, persaingan justru dapat lebih terasa pada transportasi berat dan perjalanan jarak jauh.
Indonesia Sudah Memiliki Produksi Hidrogen Hijau
Pengembangan hidrogen di Indonesia bukan lagi sebatas konsep. PLN sebelumnya mengoperasikan 21 Green Hydrogen Plant dengan kemampuan produksi sekitar 199 ton hidrogen per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 124 ton merupakan kelebihan produksi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan termasuk kendaraan.
Menurut perhitungan PLN ketika fasilitas tersebut diresmikan, produksi 124 ton itu secara teoritis dapat mendukung sekitar 424 kendaraan fuel cell yang masing-masing menempuh perjalanan 100 kilometer per hari. Pemanfaatannya juga diperkirakan dapat mengurangi penggunaan BBM impor.
Stasiun Hidrogen Pertama Sudah Dibangun
Ekosistem kendaraan hidrogen membutuhkan infrastruktur khusus berupa Hydrogen Refueling Station atau HRS. PLN telah meresmikan stasiun pengisian hidrogen di Senayan, Jakarta, sebagai bagian dari pembangunan rantai pasok hidrogen untuk transportasi.
Keberadaan HRS menjadi langkah awal bagi masa depan kendaraan hidrogen Indonesia. Namun, dibandingkan jaringan SPKLU untuk kendaraan listrik baterai, jumlah infrastruktur hidrogen masih sangat terbatas. Inilah salah satu tantangan utama jika mobil hidrogen ingin digunakan secara massal.
Biaya Per Kilometer Pernah Diklaim Kompetitif

PLN juga pernah melakukan perhitungan mengenai biaya penggunaan hidrogen untuk kendaraan. Dalam perhitungan yang dipublikasikan saat peresmian HRS pada 2024, biaya kendaraan hidrogen diperkirakan sekitar Rp276 per kilometer, sementara mobil listrik sekitar Rp350–400 per kilometer dan kendaraan BBM sekitar Rp1.300 per kilometer.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai perhitungan PLN pada kondisi produksi dan asumsi saat itu, bukan harga universal kendaraan hidrogen di Indonesia. Biaya aktual pada skala komersial akan dipengaruhi harga produksi hidrogen, distribusi, investasi HRS, efisiensi kendaraan dan perkembangan teknologi.
Mobil Hidrogen Buatan Indonesia Mulai Dikembangkan
Indonesia juga sudah mempunyai prototipe kendaraan berbasis hidrogen. PLN Nusantara Power bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan H-E Nusantara, kendaraan hybrid hidrogen-listrik yang memadukan fuel cell dan baterai.
PLN Nusantara Power menyebut kendaraan tersebut mempunyai jarak tempuh hingga sekitar 270 kilometer, sedangkan pengisian hidrogennya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Kendaraan ini masih menjadi inovasi pengembangan teknologi, bukan mobil produksi massal yang sudah dipasarkan luas.
Mobil Listrik Tetap Memiliki Keunggulan Besar
Meski hidrogen menawarkan sejumlah kelebihan, kendaraan listrik baterai sudah berada beberapa langkah lebih maju dari sisi ekosistem. Industri kendaraan listrik nasional terus dikembangkan dan pemerintah menempatkannya sebagai salah satu pilar transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Infrastruktur pengisian baterai juga lebih mudah dikembangkan karena dapat memanfaatkan jaringan listrik yang sudah tersedia. Pemilik EV bahkan dapat melakukan pengisian di rumah, sesuatu yang tidak dapat dilakukan dengan mudah oleh kendaraan hidrogen karena membutuhkan fasilitas penyimpanan dan pengisian khusus.
Hidrogen Masih Menghadapi Tantangan Infrastruktur
Tantangan terbesar teknologi fuel cell ramah lingkungan adalah pembangunan ekosistemnya. Hidrogen perlu diproduksi, disimpan, didistribusikan dan disalurkan menggunakan fasilitas dengan standar keamanan tinggi.
Publikasi pemerintah mengenai ekosistem hidrogen mencatat beberapa tantangan utama, termasuk biaya produksi hidrogen hijau yang masih tinggi, infrastruktur yang belum tersebar luas, efisiensi konversi energi yang belum maksimal serta risiko keamanan dalam penyimpanan dan transportasi.
Mobil Hidrogen dan EV Bisa Berjalan Bersamaan
Melihat karakter masing-masing teknologi, persaingan tidak harus menghasilkan satu pemenang mutlak. Mobil listrik baterai mempunyai keunggulan untuk kendaraan penumpang dan perjalanan harian karena pengisian dapat dilakukan melalui jaringan listrik.
Sebaliknya, hidrogen berpotensi memainkan peran lebih besar untuk bus, truk, transportasi berat dan perjalanan jarak jauh. Dengan demikian, Hidrogen Hijau Saingi Mobil Listrik lebih tepat dipandang sebagai munculnya pilihan teknologi baru dalam transisi energi daripada pertarungan yang pasti menghilangkan salah satunya.
Hidrogen Bisa Mengurangi Ketergantungan BBM
Keuntungan lain yang dilihat pemerintah dan PLN adalah ketahanan energi. Hidrogen hijau dapat diproduksi di dalam negeri menggunakan sumber energi terbarukan sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
ESDM mencatat bahwa pemanfaatan kelebihan produksi 124 ton hidrogen hijau dari fasilitas PLN secara teoritis dapat mengurangi kebutuhan BBM hingga sekitar 1,55 juta liter per tahun apabila digunakan untuk kendaraan sesuai asumsi yang digunakan saat perhitungan.
Masa Depan Kendaraan Hidrogen di Indonesia
Indonesia mempunyai peluang mengembangkan hidrogen karena memiliki sumber energi terbarukan yang besar. Tantangannya adalah membuat hidrogen hijau dapat diproduksi dengan harga kompetitif sekaligus membangun infrastruktur distribusi dan pengisian yang memadai.
Jika persoalan tersebut dapat diatasi, kendaraan hidrogen dapat melengkapi ekosistem mobil listrik baterai. Untuk saat ini, EV masih lebih matang untuk penggunaan massal, sedangkan hidrogen menunjukkan potensi kuat terutama pada segmen transportasi yang membutuhkan pengisian cepat dan jarak perjalanan panjang.
Hidrogen Hijau Saingi Mobil Listrik karena menawarkan sejumlah keunggulan, terutama pengisian sekitar 3–5 menit, potensi jarak perjalanan panjang serta emisi langsung yang sangat rendah ketika digunakan pada fuel cell. Indonesia juga sudah mempunyai fasilitas produksi hidrogen hijau dan stasiun pengisian hidrogen sebagai tahap awal pembangunan ekosistem.
Namun, kendaraan hidrogen belum berada pada tingkat adopsi yang sama dengan mobil listrik baterai. Infrastruktur, biaya produksi, distribusi dan efisiensi masih menjadi tantangan. Karena itu, skenario yang cukup masuk akal adalah keduanya berkembang berdampingan: baterai untuk banyak kendaraan penumpang, sementara hidrogen mengambil peran pada kebutuhan transportasi tertentu.
FAQ
Apakah mobil hidrogen termasuk mobil listrik?
Ya. Kendaraan fuel cell menggunakan motor listrik, tetapi listriknya dihasilkan melalui sistem fuel cell berbahan bakar hidrogen.
Berapa lama mengisi bahan bakar mobil hidrogen?
Pengisian hidrogen dapat berlangsung sekitar 3–5 menit, tergantung kendaraan dan fasilitas pengisiannya.
Apakah Indonesia sudah memiliki stasiun hidrogen?
Ya. PLN telah meresmikan Hydrogen Refueling Station di kawasan Senayan, Jakarta.
Apakah kendaraan hidrogen menghasilkan emisi?
Pada penggunaan fuel cell, hidrogen tidak menghasilkan emisi CO2 dari knalpot dan menghasilkan air sebagai produk sampingan. Manfaat iklim keseluruhannya tetap bergantung pada bagaimana hidrogen tersebut diproduksi.
Apakah mobil hidrogen akan menggantikan mobil listrik baterai?
Belum tentu. Saat ini keduanya lebih mungkin saling melengkapi karena mempunyai keunggulan berbeda untuk jenis kendaraan dan kebutuhan perjalanan yang berbeda.


