Pemerintah semakin serius mendorong Energi Surya Gantikan Bahan Bakar fosil sebagai salah satu strategi memperkuat kemandirian energi Indonesia. Program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak atau GWp diproyeksikan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkitan listrik. Pemerintah menilai sinar matahari yang tersedia hampir sepanjang tahun memberikan Indonesia peluang besar menghasilkan listrik tanpa terus bergantung pada bahan bakar yang harganya dapat terpengaruh gejolak pasar dunia.
Dorongan tersebut semakin relevan ketika konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi global. Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan gejolak harga energi dapat menambah beban subsidi dan kompensasi pemerintah apabila tidak diantisipasi. Karena itu, pengembangan energi baru terbarukan diposisikan sebagai bagian dari strategi swasembada energi nasional. PLTS menggantikan pembangkit listrik diesel, pengembangan energi surya skala nasional, dan penghematan bahan bakar fosil Indonesia menjadi bagian penting dari arah transformasi sektor energi tersebut.
Energi Surya Gantikan Bahan Bakar Fosil Secara Bertahap
Pemerintah tidak berarti menghentikan seluruh penggunaan energi fosil dalam waktu singkat. Perubahan dilakukan secara bertahap dengan meningkatkan kapasitas pembangkit energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit yang menggunakan bahan bakar fosil, terutama pembangkit listrik tenaga diesel di daerah yang mempunyai potensi energi surya besar.
Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2026 menyampaikan rencana pembangunan PLTS dalam skala besar sekaligus percepatan penghentian PLTD. Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS hingga 100 GW dan menyebut rencana penghentian sekitar 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel. Langkah tersebut menjadi bagian penting ketika Energi Surya Gantikan Bahan Bakar untuk memenuhi kebutuhan listrik secara lebih efisien.
Program PLTS 100 GWp Mulai Bergerak
Program PLTS 100 GWp menjadi salah satu proyek energi terbarukan terbesar yang sedang didorong pemerintah. Tahap awalnya ditandai dengan pembangunan pembangkit surya berkapasitas total sekitar 5,3 GWp di 14 lokasi. Peluncuran tahap tersebut dilakukan Presiden Prabowo di Bali pada 25 Agustus 2026.
Pengembangan energi surya skala nasional tidak hanya diarahkan untuk menyediakan listrik bersih. Pemerintah juga ingin program tersebut menciptakan kegiatan ekonomi baru melalui industri panel surya, baterai, konstruksi pembangkit, operasi dan pemeliharaan hingga pengembangan sumber daya manusia di sektor energi terbarukan.
PLTS Diproyeksikan Hemat Rp73,9 Triliun Setahun
Salah satu alasan pemerintah mempercepat pembangunan PLTS adalah potensi penghematan biaya energi. Berdasarkan proyeksi yang disampaikan pemerintah, pembangunan PLTS hingga 100 GW berpotensi memberikan penghematan sedikitnya Rp73,9 triliun per tahun dari penurunan biaya pokok produksi listrik.
Nilai tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan Energi Surya Gantikan Bahan Bakar tidak hanya mempunyai dimensi lingkungan. Semakin sedikit kebutuhan bahan bakar untuk menghasilkan listrik, semakin kecil pula pengaruh fluktuasi harga komoditas energi terhadap biaya pembangkitan, meski realisasi manfaat ekonominya tetap bergantung pada pelaksanaan proyek dan sistem kelistrikan yang dibangun.
PLTD Menjadi Salah Satu Sasaran Penggantian
Pembangkit listrik tenaga diesel menjadi salah satu fokus karena membutuhkan pasokan BBM secara terus-menerus. Di wilayah kepulauan dan daerah terpencil, distribusi bahan bakar juga dapat meningkatkan biaya operasional karena BBM harus dikirim melalui jalur logistik yang panjang.
Karena itu, PLTS menggantikan pembangkit listrik diesel menjadi salah satu pendekatan yang dinilai cocok untuk wilayah dengan paparan matahari memadai. Sistem PLTS juga dapat dipadukan dengan penyimpanan energi agar listrik yang dihasilkan pada siang hari dapat digunakan ketika matahari sudah tidak tersedia.
Energi Surya Bisa Kurangi Ketergantungan Impor

Ketahanan energi menjadi isu penting karena sebagian kebutuhan energi Indonesia masih berkaitan dengan pasokan dan harga komoditas global. Konflik geopolitik dapat menyebabkan gangguan rantai pasok serta mendorong kenaikan harga minyak dan energi lainnya. Kondisi seperti itu pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan subsidi maupun kompensasi pemerintah.
Dengan memperbanyak sumber listrik yang memanfaatkan matahari, Energi Surya Gantikan Bahan Bakar dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi yang harus diperoleh melalui rantai pasok bahan bakar. Matahari menjadi sumber energi domestik yang tersedia tanpa harus dibeli sebagai komoditas bahan bakar setiap kali pembangkit beroperasi.
Potensi Penurunan Emisi Mencapai 140 Juta Ton
Manfaat lain program PLTS 100 GWp adalah pengurangan emisi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut program tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga sekitar 140 juta ton CO2 per tahun. Potensi nilai ekonomi karbonnya diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.
Angka tersebut menunjukkan penghematan bahan bakar fosil Indonesia juga dapat memberikan manfaat dalam pencapaian target lingkungan. Ketika pembangkit berbahan bakar fosil digantikan atau dikurangi jam operasinya oleh energi surya, emisi yang berasal dari proses pembakaran dapat ikut ditekan.
Bali Mulai Bangun PLTS dalam Skala Besar
Bali menjadi salah satu daerah yang bergerak dalam pengembangan energi surya. Pemerintah Provinsi Bali menyampaikan program PLTS 1.000 MWp sebagai bagian dari target mewujudkan Bali Mandiri Energi dengan energi bersih paling lambat 2030. Bali bahkan berpeluang memperoleh tambahan kuota pengembangan hingga 1.500 MWp.
Pembangunan awal di Gilimanuk telah dimulai pada 25 Agustus 2026 dengan kapasitas 1 MWp di lahan sekitar satu hektare. Proyek tersebut merupakan bagian awal dari rencana PLTS sekitar 321 MWp di kawasan tersebut. Tahap pembangunan berikutnya dijadwalkan mulai September 2026 dan ditargetkan selesai September 2027.
Energi Surya Juga Cocok untuk Daerah Terpencil
Keunggulan PLTS tidak terbatas pada proyek pembangkit berkapasitas besar. Sistem surya dapat digunakan secara off-grid untuk memenuhi kebutuhan listrik di tempat yang sulit mendapatkan pasokan dari jaringan utama. Pendekatan ini memungkinkan listrik diproduksi langsung dekat lokasi pengguna.
Model tersebut sangat relevan bagi daerah kepulauan yang sebelumnya bergantung pada genset diesel. Jika dilengkapi baterai dengan kapasitas memadai, PLTS dapat mengurangi kebutuhan mengoperasikan genset secara rutin dan sekaligus menekan pengiriman BBM menuju daerah terpencil.
Industri Panel Surya Dalam Negeri Perlu Diperkuat
Besarnya program energi surya juga membawa tantangan baru. Pemerintah menilai Indonesia perlu membangun ekosistem EBT yang terintegrasi mulai dari sumber bahan baku, industri manufaktur, teknologi hingga sumber daya manusia. Tanpa rantai pasok domestik yang kuat, peralihan dari energi fosil berpotensi menciptakan ketergantungan baru terhadap teknologi impor.
Indonesia mempunyai sumber daya seperti bauksit, nikel, silika dan tembaga yang dapat mendukung industri panel surya, baterai serta teknologi energi bersih lainnya. Penguasaan teknologi dan penguatan manufaktur dalam negeri karena itu menjadi bagian penting agar manfaat ekonomi dari Energi Surya Gantikan Bahan Bakar tidak hanya berasal dari penghematan energi.
PLTS Berpotensi Membuka Jutaan Lapangan Kerja
Pengembangan PLTS dalam skala 100 GWp juga diproyeksikan menciptakan dampak besar terhadap tenaga kerja. Kementerian ESDM memperkirakan program tersebut mempunyai potensi penyerapan hingga 5,5 juta tenaga kerja apabila seluruh ekosistem pengembangannya dapat terbentuk.
Pekerjaan tidak hanya muncul pada tahap pemasangan panel. Industri komponen, manufaktur, konstruksi, jaringan kelistrikan, penyimpanan energi, operasi pembangkit, pemeliharaan hingga riset dan pengembangan dapat membentuk rantai ekonomi baru di sekitar energi surya.
Transisi Energi Tetap Membutuhkan Infrastruktur
Meski mempunyai potensi besar, energi surya mempunyai karakteristik berbeda dengan pembangkit konvensional. Produksi listrik dipengaruhi kondisi matahari sehingga sistem kelistrikan membutuhkan jaringan yang fleksibel, penyimpanan energi, pengaturan beban dan kombinasi dengan pembangkit lain untuk menjaga keandalan pasokan.
Karena itu, proses PLTS menggantikan pembangkit listrik diesel membutuhkan perencanaan teknis yang matang. Pembangunan panel surya harus berjalan bersama peningkatan jaringan transmisi, distribusi, baterai dan sistem pengelolaan listrik agar energi yang dihasilkan dapat digunakan secara optimal.
Energi Terbarukan Jadi Strategi Kemandirian Nasional
Pada IndoEBTKE ConEx 2026 di Jakarta, pemerintah kembali menegaskan pengembangan energi baru terbarukan sebagai program prioritas. Dorongan tersebut semakin kuat karena gangguan geopolitik dunia memperlihatkan besarnya risiko apabila kebutuhan energi nasional terlalu bergantung pada komoditas dan rantai pasok global.
Dalam konteks tersebut, Energi Surya Gantikan Bahan Bakar merupakan bagian dari strategi yang lebih luas menuju swasembada energi. Indonesia mempunyai sumber matahari yang tersedia di berbagai wilayah sehingga tantangan berikutnya adalah mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang benar-benar beroperasi dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Program Energi Surya Gantikan Bahan Bakar fosil mulai didorong dalam skala jauh lebih besar melalui pembangunan PLTS hingga 100 GWp. Tahap awal pembangunan sekitar 5,3 GWp di 14 lokasi telah diresmikan pada Agustus 2026. Pemerintah juga menyiapkan pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit listrik diesel sebagai bagian dari transisi menuju sistem energi yang lebih mandiri.
Jika terealisasi sesuai rencana, PLTS 100 GWp diproyeksikan memberikan penghematan biaya produksi listrik sedikitnya Rp73,9 triliun per tahun, menekan emisi hingga sekitar 140 juta ton CO2 per tahun dan menciptakan jutaan peluang kerja. Tantangannya adalah memastikan pembangunan jaringan, penyimpanan energi dan industri teknologi dalam negeri berkembang bersamaan dengan kapasitas PLTS.
FAQ
Apakah energi surya benar-benar akan menggantikan bahan bakar fosil?
Penggantiannya dilakukan secara bertahap. Salah satu fokus pemerintah adalah meningkatkan PLTS sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Berapa target pembangunan PLTS Indonesia?
Pemerintah mendorong program pembangunan PLTS hingga 100 GWp, dengan tahap awal pembangunan sekitar 5,3 GWp di 14 lokasi.
Berapa potensi penghematan dari PLTS 100 GWp?
Pemerintah memproyeksikan penghematan sedikitnya sekitar Rp73,9 triliun per tahun dari penurunan biaya pokok produksi listrik.
Mengapa PLTS cocok menggantikan pembangkit diesel?
PLTS memanfaatkan sinar matahari sehingga dapat mengurangi kebutuhan BBM untuk menghasilkan listrik. Untuk menjaga pasokan saat matahari tidak tersedia, penerapannya dapat membutuhkan baterai atau dukungan sumber listrik lain.
Apakah PLTS 100 GWp dapat mengurangi emisi?
Ya. Menteri ESDM memperkirakan program tersebut berpotensi menurunkan emisi hingga sekitar 140 juta ton CO2 per tahun.


