Masa Depan Hidrogen Hijau Indonesia semakin banyak mendapat perhatian seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sumber energi yang lebih bersih dan target Indonesia mencapai emisi nol bersih pada 2060. Hidrogen hijau dipandang bukan sekadar alternatif bahan bakar, tetapi juga dapat menjadi pembawa energi untuk sektor-sektor yang sulit dialihkan langsung ke listrik. Pemerintah telah meluncurkan National Hydrogen and Ammonia Roadmap 2025-2060 yang menjadi salah satu pijakan pengembangan ekosistem hidrogen nasional. Roadmap tersebut mencakup pemanfaatan hidrogen untuk industri, pembangkit listrik, jaringan gas, dan transportasi.
Potensi tersebut menjadi semakin menarik karena Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang besar. Hidrogen hijau diproduksi dengan memecah molekul air menggunakan listrik yang berasal dari energi terbarukan seperti surya, angin, biomassa, dan panas bumi. Artinya, perkembangan hidrogen hijau sangat bergantung pada keberhasilan Indonesia memperluas pembangkit energi terbarukan sekaligus menyediakan infrastruktur produksi, penyimpanan, distribusi, dan penggunaannya. Tantangannya tidak kecil, tetapi jika dibangun secara konsisten, hidrogen dapat menjadi salah satu bagian penting dalam transformasi energi dan industri Indonesia.
Apa Itu Hidrogen Hijau?
Hidrogen hijau merupakan hidrogen yang diproduksi melalui proses elektrolisis air dengan menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.
Berbeda dengan hidrogen konvensional yang umumnya masih bergantung pada bahan bakar fosil, produksi hidrogen hijau diarahkan untuk menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah. Karena karakteristik tersebut, hidrogen hijau memiliki peran potensial dalam proses dekarbonisasi sektor yang sulit menggunakan listrik secara langsung.
Indonesia memiliki alasan kuat untuk mengembangkan teknologi ini karena sumber energi terbarukannya relatif beragam, mulai dari tenaga surya, hidro, angin, biomassa hingga panas bumi. Tantangan berikutnya adalah mengubah potensi sumber daya tersebut menjadi listrik terbarukan yang kompetitif untuk produksi hidrogen.
Roadmap Hidrogen Indonesia hingga 2060
Pemerintah telah meluncurkan National Hydrogen and Ammonia Roadmap 2025-2060 sebagai panduan pengembangan sektor tersebut.
Roadmap tersebut membagi pengembangan hidrogen dalam beberapa tahap. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada pembentukan regulasi dan kerangka kebijakan. Tahap menengah menitikberatkan pembangunan infrastruktur, mobilisasi investasi, serta pengembangan hydrogen hub. Sementara itu, tahap jangka panjang diarahkan pada pengembangan hidrogen dan turunannya sebagai komoditas ekspor.
Roadmap tersebut juga mencantumkan 215 rencana aksi yang mencakup aspek regulasi, infrastruktur, pengembangan pasar, hingga ekspor. Pemerintah menargetkan konsumsi hidrogen untuk pembangkit listrik mencapai sekitar 4,2 juta ton per tahun pada 2060.
Industri Menjadi Pengguna Awal
Salah satu peluang terbesar hidrogen hijau Indonesia berada di sektor industri.
Menurut kajian IESR mengenai roadmap nasional, penggunaan hidrogen bersih dimulai dari sektor industri, termasuk baja dan kilang, kemudian diarahkan ke industri pupuk, kimia, tekstil, pulp dan kertas, serta makanan dan minuman dalam tahapan berikutnya.
Industri berat membutuhkan energi dalam jumlah besar dan sebagian proses produksinya sulit dilakukan hanya dengan elektrifikasi. Hidrogen dapat menjadi salah satu pilihan untuk menggantikan penggunaan bahan bakar fosil dalam proses tertentu.
Pemanfaatannya juga dapat dikembangkan menjadi amonia hijau yang kemudian digunakan sebagai bahan baku industri pupuk.
Hidrogen Hijau untuk Pupuk dan Amonia

Sektor pupuk menjadi salah satu kandidat pengguna hidrogen hijau yang cukup penting.
Hidrogen merupakan bahan baku utama dalam produksi amonia. Apabila hidrogen tersebut diproduksi menggunakan energi terbarukan, proses pembuatan amonia dapat diarahkan menjadi lebih rendah karbon.
Indonesia memiliki industri pupuk yang besar sehingga pengembangan hidrogen hijau untuk sektor ini berpotensi menciptakan permintaan domestik. Kerja sama antara PLN, Pupuk Indonesia, dan ACWA Power mengenai Green Hydrogen Purchase Agreement juga menunjukkan adanya upaya membangun rantai pasok hidrogen untuk kebutuhan produksi amonia hijau.
Peluang Hidrogen untuk Transportasi
Transportasi juga menjadi salah satu sektor yang masuk dalam rencana pengembangan hidrogen Indonesia.
Hidrogen berpotensi digunakan pada kendaraan berat, angkutan jarak jauh, pelayaran, dan sektor lain yang memiliki tantangan elektrifikasi. Roadmap nasional menempatkan transportasi sebagai salah satu sektor pemanfaatan hidrogen, sementara proyeksi penggunaan hidrogen untuk transportasi diperkirakan berkembang secara bertahap dalam jangka panjang.
Namun, penggunaan hidrogen untuk kendaraan penumpang tidak otomatis menjadi pilihan utama. Infrastruktur pengisian, biaya kendaraan, efisiensi energi, dan ketersediaan hidrogen akan menentukan sektor transportasi mana yang paling masuk akal untuk dikembangkan.
Potensi Menjadi Komoditas Ekspor
Indonesia tidak hanya memiliki peluang membangun pasar domestik.
Dengan sumber energi terbarukan yang besar dan posisi geografis strategis di Asia Tenggara, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemasok hidrogen dan turunannya untuk pasar regional.
Ekspor kemungkinan lebih mudah dilakukan dalam bentuk turunan hidrogen seperti amonia karena aspek penyimpanan dan pengangkutannya relatif lebih praktis dibandingkan hidrogen murni. Roadmap pemerintah sendiri menempatkan ekspor sebagai salah satu tujuan jangka panjang pengembangan ekosistem hidrogen nasional.
Jika pasar global berkembang, Indonesia berpotensi masuk dalam rantai pasok energi bersih Asia.
Investasi Menjadi Faktor Penentu
Pengembangan hidrogen hijau membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Investasi dibutuhkan untuk pembangkit listrik terbarukan, elektroliser, fasilitas pengolahan air, penyimpanan, pipa, terminal, transportasi, hingga fasilitas pengguna akhir. Karena itu, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.
Green Hydrogen Organisation mencatat pemerintah Indonesia menargetkan investasi sektor swasta dalam pengembangan hidrogen hijau mencapai US$25,2 miliar hingga 2060.
Besarnya kebutuhan investasi tersebut menunjukkan bahwa kepastian regulasi dan skema bisnis akan menjadi sangat penting untuk menarik investor.
Biaya Produksi Masih Menjadi Tantangan
Salah satu hambatan utama hidrogen hijau adalah biaya.
Harga listrik terbarukan dan teknologi elektroliser sangat menentukan biaya produksi. IESR memperkirakan levelized cost of hydrogen atau LCOH dari pembangkit surya di Indonesia saat ini masih berada sekitar US$4,3-US$8,3 per kilogram. Namun, dengan pengembangan ekosistem yang tepat, biaya tersebut berpotensi turun menuju sekitar US$2 per kilogram sebelum 2040.
Penurunan biaya teknologi akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah hidrogen hijau dapat bersaing dengan sumber energi lain.
Infrastruktur Harus Dibangun Bersamaan
Tidak cukup hanya membangun fasilitas produksi hidrogen.
Indonesia juga membutuhkan jaringan penyimpanan dan distribusi yang memadai. Untuk proyek skala besar, pembangunan pipa, fasilitas pengisian, terminal, serta infrastruktur ekspor perlu direncanakan sejak awal.
Kajian mengenai pengembangan hidrogen Indonesia juga menekankan pentingnya integrasi antara produksi, transportasi, penyimpanan, dan distribusi. Tanpa infrastruktur tersebut, produsen mungkin mampu menghasilkan hidrogen tetapi kesulitan menemukan cara yang efisien untuk mengirimkannya kepada konsumen.
Karena itu, pengembangan hydrogen hub dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan.
Regulasi dan Sertifikasi Sangat Penting
Pasar hidrogen membutuhkan kepastian mengenai apa yang disebut sebagai hidrogen hijau.
Sertifikasi diperlukan untuk memastikan bahwa hidrogen yang dipasarkan benar-benar memenuhi standar emisi dan berasal dari sumber energi yang sesuai. Hal tersebut menjadi semakin penting jika Indonesia ingin memasuki pasar ekspor yang memiliki standar lingkungan berbeda-beda.
Kajian Green Hydrogen Organisation dan mitranya merekomendasikan definisi nasional yang jelas, sistem sertifikasi transparan, serta koordinasi regulasi antarkementerian.
Tanpa standar yang jelas, investor dan pembeli internasional akan kesulitan menilai kualitas serta jejak karbon produk hidrogen Indonesia.
Peluang Lapangan Kerja Baru
Pengembangan ekonomi hidrogen juga berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Kebutuhan tenaga kerja akan muncul mulai dari penelitian dan pengembangan teknologi, konstruksi fasilitas, pengoperasian elektroliser, pemeliharaan pembangkit energi terbarukan, logistik, hingga pengelolaan fasilitas hidrogen.
GGGI mengutip perkiraan pemerintah bahwa pengembangan ekosistem hidrogen berpotensi menciptakan sekitar 300.000 lapangan pekerjaan sekaligus memberikan kontribusi ekonomi yang besar apabila ekosistem tersebut berkembang sesuai target.
Artinya, pengembangan hidrogen tidak hanya berkaitan dengan energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi industrialisasi.
Tantangan Masa Depan Hidrogen Indonesia
Ada sejumlah persoalan yang harus diselesaikan sebelum hidrogen hijau dapat berkembang dalam skala besar.
Pertama adalah harga energi terbarukan yang kompetitif. Kedua adalah ketersediaan infrastruktur. Ketiga adalah kepastian pembeli atau offtaker. Keempat adalah regulasi dan sertifikasi. Kelima adalah pembiayaan proyek yang membutuhkan modal besar.
IESR menekankan pentingnya enam pilar, yaitu pengembangan teknologi dan energi terbarukan, integrasi hidrogen dengan sektor pengguna, pembangunan infrastruktur, insentif dan pembiayaan, kebijakan serta regulasi, dan peningkatan keterampilan sumber daya manusia.
Dengan kata lain, keberhasilan hidrogen hijau tidak bisa hanya mengandalkan satu kebijakan.
Masa Depan Hidrogen Hijau Indonesia
Jika berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, hidrogen hijau berpotensi menjadi bagian penting dari ekonomi rendah karbon Indonesia.
Dalam jangka pendek, fokus kemungkinan berada pada proyek percontohan dan penggunaan di sektor industri yang sudah memiliki kebutuhan hidrogen. Selanjutnya, pasar dapat diperluas menuju transportasi, pembangkit listrik, penyimpanan energi, dan ekspor.
Perkembangan tersebut tentu membutuhkan waktu. Hidrogen hijau bukan solusi instan untuk seluruh persoalan energi Indonesia, tetapi dapat menjadi pelengkap penting bagi energi terbarukan dan elektrifikasi.
Masa Depan Hidrogen Hijau Indonesia memiliki peluang besar karena didukung potensi energi terbarukan, kebutuhan dekarbonisasi industri, serta roadmap nasional hingga 2060. Pemerintah telah menempatkan hidrogen dalam strategi transisi energi dengan sasaran penggunaan di sektor industri, pembangkit listrik, jaringan gas, transportasi, dan pasar ekspor.
Namun, perjalanan menuju ekonomi hidrogen tidak sederhana. Indonesia masih perlu menurunkan biaya produksi, membangun infrastruktur, memperjelas regulasi dan sertifikasi, menyediakan pembiayaan, serta memastikan adanya pembeli yang mampu menyerap produksi. Jika seluruh komponen tersebut dapat dikembangkan secara terintegrasi, hidrogen hijau berpotensi menjadi salah satu fondasi baru energi bersih sekaligus membuka peluang investasi dan industri bernilai tambah bagi Indonesia.
FAQ
Apa itu hidrogen hijau?
Hidrogen hijau adalah hidrogen yang diproduksi melalui elektrolisis air dengan menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan seperti surya, angin, biomassa, atau panas bumi.
Mengapa Indonesia mengembangkan hidrogen hijau?
Hidrogen hijau dapat membantu mengurangi emisi pada sektor yang sulit dialiri listrik secara langsung, terutama industri berat dan transportasi berat.
Kapan hidrogen akan digunakan secara luas di Indonesia?
Pengembangannya dilakukan secara bertahap. Roadmap nasional menetapkan tahapan jangka pendek, menengah, dan panjang hingga 2060, dengan penggunaan yang semakin luas seiring perkembangan infrastruktur dan pasar.
Apakah Indonesia berpotensi menjadi eksportir hidrogen?
Ya. Pemerintah memasukkan pengembangan hidrogen dan turunannya sebagai komoditas ekspor dalam rencana jangka panjang.
Apa kendala terbesar hidrogen hijau Indonesia?
Tantangan utamanya mencakup biaya produksi, ketersediaan energi terbarukan murah, infrastruktur, pembiayaan, regulasi, sertifikasi, dan kepastian pasar.
Apakah hidrogen hijau bisa menggantikan semua bahan bakar fosil?
Tidak secara langsung. Hidrogen lebih tepat diposisikan sebagai salah satu bagian dari bauran energi bersih, terutama untuk sektor yang sulit menggunakan elektrifikasi secara langsung.


