Perkembangan Teknologi Baterai Energi Terbarukan Indonesia semakin penting ketika pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan angin mulai diperbesar. Tantangannya sederhana tetapi krusial: matahari tidak bersinar sepanjang hari dan angin tidak selalu bertiup sesuai kebutuhan listrik. Sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) dapat menyimpan listrik ketika produksi berlebih, kemudian menyalurkannya kembali ketika permintaan meningkat atau produksi energi terbarukan menurun.
Arah tersebut semakin terlihat dalam kebijakan ketenagalistrikan Indonesia. pengembangan sistem penyimpanan energi baterai nasional masuk dalam RUPTL PLN 2025–2034, dengan rencana 6 GW BESS atau sekitar 27 GWh, ditambah 4,3 GW pumped storage. Pemerintah juga mendorong pembangunan tenaga surya dalam skala jauh lebih besar sehingga kebutuhan teknologi penyimpanan energi diperkirakan semakin penting.
Teknologi Baterai Energi Terbarukan Indonesia Semakin Dibutuhkan
Energi surya mempunyai karakter berbeda dibanding pembangkit konvensional. Produksi listrik PLTS meningkat ketika matahari tersedia dan turun ketika cuaca berubah atau malam tiba. Energi angin menghadapi persoalan variabilitas serupa.
Baterai memberikan solusi dengan menyimpan kelebihan listrik.
Misalnya, sebuah PLTS menghasilkan listrik tinggi pada tengah hari ketika permintaan belum mencapai puncaknya. Sebagian energi dapat disimpan dalam BESS daripada tidak termanfaatkan secara optimal. Ketika matahari terbenam dan konsumsi listrik meningkat pada malam hari, energi yang tersimpan dapat dilepaskan kembali ke jaringan.
IEA menjelaskan battery storage dapat membantu integrasi tenaga surya dan angin, menyediakan penyeimbangan sistem, mendukung jaringan, serta memindahkan pemanfaatan energi terbarukan dari periode produksi tinggi menuju periode permintaan tinggi.
Indonesia Targetkan BESS 6 GW dalam RUPTL
Rencana pengembangan Indonesia sudah mulai mempunyai angka yang cukup konkret.
RUPTL PLN 2025–2034 merencanakan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Sekitar 42,1 GW berasal dari energi terbarukan, sementara penyimpanan energi direncanakan mencapai 10,3 GW.
Rinciannya terdiri atas:
- BESS sebesar 6 GW atau sekitar 27 GWh
- Pumped storage sebesar 4,3 GW
- PLTS sebesar 17,1 GW
- Tenaga angin sebesar 7,2 GW
- Hidro sebesar 11,7 GW
- Panas bumi sebesar 5,2 GW.
Angka tersebut menunjukkan baterai tidak lagi sekadar proyek eksperimental. Teknologi penyimpanan mulai menjadi bagian dari perencanaan sistem ketenagalistrikan nasional.
Mengapa BESS Penting untuk PLTS?
Semakin besar kapasitas tenaga surya yang masuk jaringan, semakin besar pula kebutuhan fleksibilitas sistem.
PLTS dapat menghasilkan energi sangat besar pada siang hari, tetapi produksinya turun drastis menjelang malam. Padahal permintaan listrik tidak otomatis turun mengikuti produksi tenaga surya.
teknologi penyimpanan listrik tenaga surya Indonesia dapat membantu mengurangi ketidaksesuaian tersebut.
Baterai dapat diisi ketika produksi PLTS tinggi dan melepaskan energi beberapa jam kemudian. Teknologi ini juga mempunyai kemampuan merespons perubahan sistem secara sangat cepat sehingga berguna untuk menjaga stabilitas jaringan.
Pemerintah Dorong PLTS 100 GW
Kebutuhan penyimpanan energi bisa meningkat jauh lebih besar apabila rencana ekspansi tenaga surya pemerintah terealisasi.
Pada Mei 2026, Kementerian ESDM menyatakan pemerintah mendorong percepatan pembangunan PLTS 100 GW. Tahap awal disebut akan dimulai dengan 17 GW PLTS yang didukung fasilitas BESS sekitar 33 GW.
Skala tersebut menunjukkan hubungan tenaga surya dan baterai semakin sulit dipisahkan.
Pembangunan PLTS dalam jumlah sangat besar tanpa fleksibilitas jaringan yang memadai dapat menciptakan persoalan baru dalam mengelola pasokan listrik.
Sebaliknya, kombinasi PLTS, BESS, jaringan transmisi, dan smart grid memungkinkan energi bersih digunakan secara lebih fleksibel.
Proyek Nyata Sudah Mulai Bermunculan

BESS bukan hanya teknologi yang masih berada dalam dokumen perencanaan.
PLN sebelumnya menjalankan proyek percontohan BESS sebesar 5 MW bersama Indonesia Battery Corporation. RUPTL juga mencakup sejumlah proyek yang menggabungkan penyimpanan dengan energi terbarukan.
Contoh lain muncul di Kabupaten Sumenep pada 2026.
PLN menandatangani kerja sama operasi untuk memanfaatkan dua PLTS, masing-masing berkapasitas 1 MWp, yang dilengkapi BESS berkapasitas 4 MWh. Proyek tersebut ditujukan untuk memperluas akses energi bersih, termasuk bagi masyarakat di wilayah kepulauan.
Implementasi seperti ini penting karena kondisi geografis Indonesia membuat teknologi penyimpanan mempunyai manfaat yang berbeda dibanding negara kontinental.
Baterai Menarik untuk Wilayah Kepulauan
Indonesia mempunyai ribuan pulau dengan karakter sistem kelistrikan yang berbeda.
Tidak semua wilayah terhubung ke jaringan listrik besar seperti Jawa-Bali. Sejumlah pulau mempunyai sistem kelistrikan kecil yang selama ini bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel.
Kombinasi PLTS dan baterai berpotensi menjadi alternatif.
Pada siang hari, energi matahari dapat digunakan sekaligus mengisi baterai. Energi yang disimpan kemudian digunakan ketika produksi PLTS turun.
Dengan konfigurasi yang tepat, konsumsi bahan bakar pembangkit diesel dapat dikurangi tanpa mengorbankan keandalan listrik.
BESS dan Smart Grid Akan Berkembang Bersamaan
Baterai tidak bekerja sendirian.
Transformasi sistem ketenagalistrikan juga membutuhkan jaringan yang mampu mengetahui kondisi produksi dan konsumsi secara real-time. Di sinilah smart grid mempunyai peran penting.
Kementerian ESDM menyebut penerapan smart grid bersama PLTS dan BESS dapat meningkatkan efisiensi sistem sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengintegrasikan energi terbarukan. Implementasi teknologi smart grid Indonesia sudah mencakup AMI, digital substation, hingga smart microgrid di kawasan kepulauan seperti Sumba dan Nusa Penida.
Dalam sistem tersebut, baterai dapat diperintah untuk mengisi atau melepaskan energi berdasarkan kondisi jaringan.
Teknologi LFP Semakin Dominan
Perkembangan teknologi baterai global juga dapat memengaruhi pilihan teknologi di Indonesia.
Menurut IEA, lithium iron phosphate atau LFP menyumbang sekitar 90 persen deployment battery storage global pada 2025. LFP mempunyai kepadatan energi lebih rendah dibanding beberapa kimia baterai yang umum digunakan pada kendaraan listrik, tetapi biasanya lebih murah dan cocok untuk siklus pengisian serta pelepasan energi yang sering.
Karakter tersebut menarik untuk penyimpanan energi stasioner.
Sebuah BESS tidak mempunyai persoalan berat dan ukuran seketat baterai kendaraan listrik. Faktor seperti biaya, umur penggunaan, keamanan, dan kemampuan menjalani banyak siklus dapat menjadi pertimbangan yang lebih penting.
Pertumbuhan Baterai Dunia Sangat Cepat
Indonesia memasuki industri ini ketika pasar penyimpanan energi global sedang mengalami ekspansi besar.
IEA mencatat sekitar 108 GW kapasitas battery storage baru dipasang secara global sepanjang 2025, naik sekitar 40 persen dibanding 2024. Kapasitas terpasang global bahkan sudah sekitar sebelas kali lebih besar dibanding 2021.
Sekitar 80 persen tambahan kapasitas 2025 berasal dari sistem utility-scale.
Perkembangan tersebut penting bagi Indonesia karena peningkatan skala produksi global berpotensi mempercepat inovasi sekaligus menekan biaya teknologi.
Indonesia Juga Membangun Industri Baterai
ekosistem industri baterai energi bersih Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan listrik.
Indonesia mempunyai sumber daya nikel besar sehingga pemerintah mendorong hilirisasi hingga industri baterai.
Pada Januari 2026, Kementerian ESDM mengumumkan kerangka kerja sama konsorsium ANTAM-IBI-HYD untuk merealisasikan proyek ekosistem baterai listrik terintegrasi. Pemerintah menempatkan pengolahan nikel untuk industri baterai sebagai salah satu bagian strategi hilirisasi.
Sebelumnya, Kementerian Investasi juga menyebut pengembangan sel baterai kendaraan listrik ditargetkan mulai berproduksi pada 2026 dalam proyek yang melibatkan kelompok CATL. Perusahaan tersebut juga menyampaikan ketertarikan mengembangkan industri daur ulang baterai di Indonesia.
Baterai Kendaraan dan BESS Tidak Sama
Meski sama-sama disebut baterai, kebutuhan kendaraan listrik dan penyimpanan jaringan mempunyai karakter berbeda.
Baterai EV harus mempunyai kepadatan energi tinggi karena bobot dan ruang sangat terbatas. Kendaraan membutuhkan baterai yang mampu menyimpan energi sebanyak mungkin tanpa menjadi terlalu berat.
BESS bersifat stasioner.
Karena tidak perlu bergerak, ukuran dan berat menjadi faktor yang relatif kurang kritis. Prioritasnya dapat lebih diarahkan pada biaya per kWh, keamanan, umur siklus, efisiensi, dan kemampuan memberikan daya sesuai kebutuhan jaringan.
Hal tersebut membuka peluang berbagai teknologi baterai digunakan sesuai kebutuhan.
Tantangan Teknologi Baterai Indonesia
Potensinya besar, tetapi implementasi BESS skala besar tetap mempunyai tantangan.
Biaya investasi awal masih menjadi salah satunya. Selain baterai, proyek membutuhkan inverter, sistem manajemen baterai, perangkat keselamatan, pendinginan, perangkat kontrol, konstruksi, dan koneksi jaringan.
Model bisnis juga perlu jelas.
Pada Desember 2025, IEA bersama Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM dan PLN menggelar workshop mengenai model bisnis serta pembiayaan BESS di Indonesia. Pembahasan mencakup risiko proyek, bankability, pembiayaan konsesional, blended finance, dan peluang Indonesia dalam rantai pasok baterai global.
Artinya, tantangannya bukan hanya menemukan teknologi yang bekerja, tetapi membuat proyek layak secara ekonomi.
Daur Ulang Akan Menjadi Isu Penting
Pertumbuhan industri baterai juga membawa pertanyaan mengenai apa yang terjadi ketika baterai mencapai akhir masa pakainya.
Baterai mengandung berbagai material bernilai yang dapat dipulihkan melalui proses daur ulang.
Jika industri daur ulang berkembang bersamaan dengan produksi baterai, sebagian material dapat kembali memasuki rantai pasok.
Pendekatan tersebut penting agar pengembangan teknologi energi bersih tidak sekadar memindahkan persoalan lingkungan dari emisi pembangkit menuju limbah baterai.
Indonesia mempunyai peluang membangun rantai industri dari bahan baku, pengolahan, produksi sel, pemanfaatan, hingga recycling.
Masa Depan Energi Terbarukan Membutuhkan Penyimpanan
Tenaga surya dan angin kemungkinan memainkan peran semakin besar dalam sistem listrik Indonesia.
Namun pembangkit saja tidak cukup.
Transmisi, smart grid, interkoneksi antarpulau, demand response, pumped storage, dan baterai harus berkembang bersama agar sistem tetap andal.
IEA menilai jaringan dan storage merupakan infrastruktur penting bagi transisi energi Asia Tenggara. Dalam skenario pemenuhan komitmen yang diumumkan, kapasitas battery storage Asia Tenggara dapat meningkat dari sedikit di atas 1 GW saat ini menjadi lebih dari 60 GW pada 2035 dan lebih dari 300 GW pada 2050.
Indonesia berpotensi mengambil bagian besar dalam transformasi tersebut karena mempunyai kebutuhan listrik yang terus meningkat sekaligus sumber energi surya, hidro, panas bumi, dan angin yang luas.
Teknologi Baterai Energi Terbarukan Indonesia sedang bergerak dari tahap proyek percontohan menuju komponen penting sistem kelistrikan nasional. RUPTL PLN 2025–2034 mencantumkan rencana pengembangan BESS sebesar 6 GW atau sekitar 27 GWh, bersamaan dengan ekspansi besar tenaga surya, angin, hidro, dan energi terbarukan lainnya.
BESS dapat menyimpan produksi listrik bersih ketika tersedia melimpah dan menggunakannya kembali ketika dibutuhkan. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, teknologi ini juga berpotensi meningkatkan keandalan sistem kecil dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
Tantangan berikutnya berada pada biaya, pembiayaan proyek, regulasi, keamanan, rantai pasok, dan daur ulang. Jika ekosistem tersebut dapat dibangun secara terpadu, Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi pengguna teknologi baterai, tetapi juga pemain penting dalam industri penyimpanan energi dan rantai pasok baterai regional.
FAQ
Apa itu BESS dalam energi terbarukan?
BESS atau Battery Energy Storage System adalah sistem baterai yang menyimpan energi listrik dan menyalurkannya kembali ketika diperlukan. Teknologi ini sangat berguna untuk mendukung PLTS dan pembangkit angin.
Berapa target BESS Indonesia?
RUPTL PLN 2025–2034 mencantumkan rencana BESS sebesar 6 GW atau sekitar 27 GWh, ditambah pumped storage 4,3 GW.
Mengapa PLTS membutuhkan baterai?
Produksi tenaga surya berubah mengikuti ketersediaan cahaya matahari. Baterai dapat menyimpan kelebihan energi pada periode produksi tinggi dan menggunakannya ketika produksi menurun atau permintaan meningkat.
Apakah Indonesia sudah mempunyai proyek PLTS dengan baterai?
Ya. Salah satu contoh pada 2026 adalah dua PLTS berkapasitas masing-masing 1 MWp di Kabupaten Sumenep yang dilengkapi BESS 4 MWh.
Apa teknologi baterai yang banyak digunakan untuk penyimpanan energi?
Secara global, LFP menjadi teknologi dominan. IEA mencatat lithium iron phosphate menyumbang sekitar 90 persen deployment battery storage dunia pada 2025.


